Minggu, 11 November 2012

GERAKAN INDONESIA BERKIBAR "GURUKU PAHLAWANKU"


Kenapa harus ada hari guru?. Padahal kita sering kali tidak menghormati guru. Misalnya, ketika jam pelajaran sudah menunjukkan waktunya kita masuk kelas, tapi kita masih saja duduk santai di kantin sekolah. Atau ketika ada tugas dari guru untuk diselesaikan dirumah, ehh kita malah nyelesaiinya di sekolah. Atau ketika guru memberikan begitu banyak tugas, materi , atau memberikan nilai ulangan yang tidak memuaskan, dengan santai kita mencelanya. Tapi tetap, dengan kesabarannya (guru), mereka menjadi penerang dalam gelapnya gulita.
Guru adalah pahlawan. Selayaknya Spider-Man yang menjadi Pahlawan bagi kota New York, maka Guru adalah Pahlawan bagi seluruh murid-muridnya. Guru adalah bukti nyata seorang pahlawan. Tidak seperti Spider-Man atau Pahlawan yang sering kita lihat di Televisi hanya sebatas dongeng sebelum tidur. Bahkan jika Spider-Man dan kawan-kawannya adalah bentuk nyata , maka mereka juga tidak akan pernah lepas dari yang namanya “Guru”.
Guru, adalah orang-orang yang dengan tulus mengabdikan dirinya untuk kemajuan pendidikan. Dari tangan-tangan merekalah lahir putra putri penerus bangsa yang memajukan bangsa dan tanah air ini. Betapa mulia tugas seorang guru, mengajarkan banyak hal untuk murid-muridnya tanpa mengenal lelah.
Lalu, selaku murid, apa yang dapat kita berikan kepada guru?. Setidaknya dengan memperhatikan mereka mengajar, bersosialisasi dengan pelajaran yang mereka ajarkan, mendapatkan nilai ulangan yang memuaskan karna hasil jerih payah sendiri, dan tugas yang diberikan untuk diselesaikan dirumah memang dilakukan dirumah, itu sudah cukup menjadi tugas bagi para murid sebagai tanda menghormati jasa-jasa guru.
Saya sendiri punya guru-guru yang saya pahlawankan dalam hati saya. Sebenarnya semua guru pahlawan untuk saya. Ingat sewaktu kecil, ketika masih di Taman Kana-kanak, setidaknya saya di ajarkan mengenal gambar-gambar, huruf-huruf, angka-angka, dan nyanyian-nyanian khas anak-anak. Beranjak dari situ mulai memasuki sekolah dasar, dari sini perjuangan agak lebih berat kala itu menurut saya. Pasalnya, dimulai dari kelas 1 (satu), gurunya agak ramah dan agak baik hati, tapi saya dan teman-teman lainnya banyak disuruh untuk membaca didepan kelas, entah mengapa setiap disuruh membaca kedepan kelas, saya merasa papan tulis itu seakan angker untuk didatangi, jantung berdegup semakin kencang kala terdengar sauttan yang memanggil nama saya. naik kekelas dua gurunya mulai sedikit tegas, dan selalu menumbuhkan mental-mental pada murid-muridnya. Dan dikelas-kelas berikutnya, selalu saya dapatkan hal-hal baru.
Guru memberikan banyak hal baru pada kita. Dari mereka, hal-hal yang tidak kita ketahui menjadi tahu, hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan untuk mewujudkannya menjadi kita wujudkan karena bantuan sang guru, segala angan, mimpi, harapan, dan cita-cita juga hadir dari guru-guru. Semacam mencairkan yang beku, meluruskan yang bengkok. Maka pantaslah Guru disebut seorang pahlawan.
Guru itu, membawa energy positif untuk murid-muridnya. Maka ketika guru berhasil memberikan atau mentransfer energy positifnya ke murid-muridnya akan berdampak kemasa depan. Dimana energy positif itu akan melindungi kita sebagai muridnya kala itu, atau seperti saya sekarang, energy positif itu akan selalu melindungi saya ketika saya sudah tidak lagi menjadi murid, tidak lagi berada disekolah, bahkan ketika nanti saya terlalu jauh dari guru-guru yang menjadi pahlawan dalam hidup saya.
Pernahkah kalian fikir guru juga bisa menjadi teman?. Iya, saya berfikir iya. Banyak guru yang malah seperti teman untuk saya, berbagi tawa dan canda, bahkan ketika marah dikelaspun, saya masih melihat sosok bahwa mereka adalah seorang yang tidak hanya guru tetapi juga teman. Sekarang saya sudah kuliah, memang baru semester 3, tapi sudah begitu lama rasanya meninggalkan sekolah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar